Peran AI dalam pemasaran kreatif, media, dan brand

Peran AI dalam pemasaran berbeda di setiap disiplin. Di bidang kreatif, AI memperluas ragam ide tetapi tidak bisa menilai mana yang benar-benar sesuai dengan brand. Di bidang media, AI melakukan optimasi lebih cepat daripada manusia. Di bidang brand, AI paling berbahaya, karena menarik setiap brand ke arah rata-rata yang sama. Tugas manusia adalah memutuskan kapan AI memimpin dan kapan AI mengikuti.
Pada Senin, 24 Februari 2025, pukul 17.00, Marketing Mondays mengadakan sesi tatap muka di Block71 Singapura yang membahas tepat pertanyaan ini: "Peran AI dalam Pemasaran Kreatif, Media, dan Brand". Tiga pembicara, satu ruangan berisi pemasar, dan perdebatan yang masih terngiang bagi kami. Kami kembali ke Block71 pada 25 Agustus 2026, dan percakapannya sudah bergeser, tetapi kerangka kerja di baliknya tetap relevan. Tulisan ini memaparkannya.
Mengapa pertanyaannya dipecah menjadi kreatif, media, dan brand?
Karena "AI dalam pemasaran" terlalu luas untuk berguna. Saat orang bilang mereka khawatir soal AI, biasanya yang dimaksud adalah salah satu dari tiga hal berbeda. Desainer khawatir pembuatan gambar akan membuat keahlian mereka murah. Media buyer khawatir bidding otomatis akan membuat perannya tidak diperlukan lagi. Pemimpin brand khawatir semuanya akan mulai terdengar sama. Ini masalah yang berbeda dengan jawaban yang berbeda pula.
Di mana AI paling membantu dalam kreatif?
AI sangat andal dalam memperluas ruang pilihan. Berikan sebuah brief dan AI akan mengembalikan lebih banyak arah daripada yang bisa disketsakan tim dalam seminggu. Itu berguna, sekaligus jebakan. Lebih banyak pilihan tidak menghasilkan keputusan yang lebih baik, melainkan keputusan yang lebih sulit.
Keterampilan kreatif yang nilainya terus naik adalah seleksi: mengetahui ide mana yang benar-benar sesuai dengan ketegangan audiens dan mana yang sekadar masuk akal. Penilaian itu bergantung pada bukti tentang apa yang benar-benar dipedulikan orang. Brand saudara kami, GPT3 Marketing, telah menggarap hal ini sejak masa awal AI generatif, dan seluruh metodenya berfokus pada mendasarkan prompt dan suara brand pada respons nyata audiens.
Aturan kreatif yang sederhana
Biarkan AI menghasilkan. Biarkan bukti menyaring. Biarkan manusia memilih. Jika salah satu dari tiga langkah itu hilang, kualitas akan turun.
Di mana AI paling membantu dalam media?
Media adalah bidang dengan rekam jejak AI yang paling matang. Bidding, pengaturan laju anggaran, dan perluasan audiens sudah dijalankan mesin selama bertahun-tahun. Batas barunya ada lebih awal dalam proses: memprediksi materi kreatif mana yang akan menarik perhatian sebelum Anda membelanjakan anggaran.
SOMIN, platform riset audiens berbasis AI yang mendirikan Marketing Mondays, menggarap pertanyaan sebelum belanja iklan ini. Intelijen media berbayar-nya menilai daya klik materi kreatif sebelum anggaran dikucurkan, sehingga mesin media mengoptimalkan aset yang tepat alih-alih secara efisien menskalakan aset yang salah. Studi kasus KPI Media menunjukkan bagaimana sebuah agensi memasukkan hal ini ke dalam alur kerjanya sendiri.
Mengapa brand adalah area paling berisiko untuk menggunakan AI?
Model bahasa besar dilatih untuk menghasilkan kata berikutnya yang paling mungkin. Dalam konteks brand, artinya pesan yang paling rata-rata. Jika setiap pesaing memakai alat yang sama dengan prompt yang mirip, kategorinya pun menyatu. Data social listening menunjukkan para pemasar sudah merasakannya: lautan keseragaman, ketika konten buatan AI membuat semua orang terdengar serupa dan nalurinya adalah mengejar tren alih-alih membangun narasi.
Jawabannya bukan menghindari AI dalam pekerjaan brand, melainkan memberinya sesuatu yang tidak dimiliki pesaing Anda: pemahaman yang spesifik dan berbukti tentang ketegangan audiens Anda, serta narasi jelas yang siap Anda pertahankan.
Kerangka kerja: siapa memimpin, siapa mengikuti?
- Kreatif: AI memimpin dalam menghasilkan, manusia memimpin dalam seleksi dan penggarapan.
- Media: AI memimpin dalam optimasi, manusia memimpin dalam menentukan apa yang dimasukkan ke dalamnya serta dalam hal laba, bukan metrik platform.
- Brand: manusia memimpin dalam narasi, AI mengikuti sebagai alat untuk konsistensi dan skala.
- Riset: AI memimpin dalam membaca volume besar, manusia memimpin dalam menafsirkan apa yang penting.
Apa yang ditentang peserta di ruangan?
Kami tidak akan mengutip ucapan yang tidak kami rekam kata demi kata, tetapi beberapa tema berulang kali muncul dari peserta.
"Siapa yang memeriksa AI?"
Beberapa pemasar khawatir tentang kesimpulan AI yang tidak bisa mereka verifikasi. Jawaban yang adil: hanya percayai alat yang memungkinkan Anda menelusuri kesimpulan kembali ke unggahan atau data nyata di baliknya. Jika tidak bisa diperiksa, jangan dirilis.
"Bagaimana nasib peran junior?"
Tugas-tugas yang dulu melatih para junior, seperti mengubah ukuran materi dan menulis draf pertama, justru yang kini diotomatisasi. Tim memerlukan cara yang disengaja untuk mengajarkan penilaian sejak dini, dan komunitas sejawat adalah bagian dari jawabannya.
"Apakah brand ini masih milik kita?"
Para pemimpin brand sepakat bahwa kepemilikan narasi tidak bisa didelegasikan. AI bisa membantu Anda menyampaikannya dengan berbagai cara, tetapi tidak bisa memutuskan apa yang Anda perjuangkan.
Apa yang sebaiknya Anda lakukan Senin ini?
Pilih satu proyek yang sedang berjalan dan beri label setiap langkahnya: kreatif, media, brand, atau riset. Untuk masing-masing, tuliskan siapa yang memimpin saat ini, manusia atau mesin, dan siapa yang seharusnya memimpin menurut kerangka kerja di atas. Sebagian besar tim menemukan satu langkah ketika AI memimpin sesuatu yang membutuhkan penilaian, biasanya nada brand, dan satu langkah ketika manusia masih mengerjakan hal yang bisa diambil alih mesin, biasanya pelaporan. Tukar keduanya dan Anda punya langkah pertama yang praktis.
Definisi
- Daya klik materi kreatif: prediksi seberapa besar kemungkinan sebuah materi kreatif mendapatkan engagement, dibuat sebelum belanja media.
- Lautan keseragaman: kategori tempat brand-brand menyatu pada pesan yang serupa, sering kali dipercepat oleh output AI yang generik.
- Ketegangan audiens: konflik atau pain point berulang yang disuarakan orang sungguhan, yang bisa dijawab oleh sebuah brand.
Apa yang berubah sejak sesi Block71 pertama?
Saat kami kembali pada Agustus 2026, percakapan telah bergeser dari "haruskah kita menggunakan AI" menjadi "bagaimana kita mengatur diri di sekitarnya". Itulah pertanyaan yang kami bawa ke sesi berikutnya, tentang bentuk tim pemasaran 2027. Anda bisa membaca bahan bacaan awalnya di sinyal tim pemasaran 2027.
Jika Anda ingin hadir di ruangan berikutnya, komunitas WhatsApp Marketing Mondays, "Marketing Mondays @ Block71", adalah tempat kabar sesi pertama kali muncul. Minta undangan di ask@mondays.marketing.
Pertanyaan yang sering diajukan
Kapan panel AI Marketing Mondays di Block71 berlangsung?
Panel ini berlangsung pada Senin, 24 Februari 2025, pukul 17.00 di Block71 Singapura, dengan tiga pembicara yang membahas peran AI dalam pemasaran kreatif, media, dan brand. Sesi Block71 berikutnya berlangsung pada 25 Agustus 2026.
Haruskah brand menggunakan AI untuk strategi brand?
Gunakan AI untuk mendukung konsistensi dan skala, tetapi biarkan keputusan narasi tetap di tangan manusia. AI yang dilatih pada rata-rata cenderung menarik brand ke arah keseragaman, kecuali jika didasarkan pada bukti audiens yang spesifik.
Di mana AI paling membantu dalam pembelian media?
Dalam optimasi dan, semakin sering, dalam memprediksi materi kreatif mana yang akan berkinerja baik sebelum uang dibelanjakan, sehingga sistem otomatis menskalakan aset yang tepat.
Minta undangan
Marketing Mondays adalah komunitas pemasar, pendiri, dan tim agensi di Singapura, ditambah acara YouTube mingguan. Sinyal nyata tentang pesaing dan audiens, bukan opini, serta ruangan berisi rekan sejawat untuk mengujinya.
Email ask@mondays.marketing →

